Kamis, 02 Mei 2013

Filosofi Wortel, Telur dan Biji Kopi

Sebagai seorang manusia kadang kita bisa meneladani Analogi dari berbagai hal semacam wortel, telur dan biji kopi. Saat menjalani kehidupan, apakah kita akan menjadi seperti Wortel, Telur ataukah Biji Kopi. memandang kehidupan dengan cara yang berbeda kadang diperlukan oleh seorang manusia untuk kembali menemukan jati dirinya yang mungkin masih bersembunyi dibalik kerasnya hati.

Siapa yang tak tahu Wortel, telur dan Kopi? Semua orang tahu bentuk fisik dan tampilang ketiga benda ini. Apa yang akan terjadi pada ketiganya saat semuanya dimasukan kedalam sebuah panci berisi air mendidih? Wortel yang tadiya keras akan melembek, Telur yang tadinya cair akan menggumpal dan Kopi yang tadinya keras, akan tetap keras. Lalu apa makna dari semua itu?

Wortel, melambangkan seseorang yang tadinya tegas dan teguh pendirian serta nilai-nilai hidup. Selalu berusaha untuk jujur dan siap bekerja keras. Namun, setelah menghadapi permasalahan hidup, tekanan lingkungan maupun keadaan keluarga yang morat-marit membuat dia memiliki mental yang lemah, tidak berani mengambil keputusan sehingga konsep dirinya pun berubah

Telur, melambangkan seorang yang tadinya lemah lembut, mengerti perasaan orang lain dan memiliki hati yang mau melayani. Namun, karena memiliki permasalahan besar dan bertubi-tubi  membuatnya menjadi mudah tersinggung, keras kepala, dan egois.

Kopi, melambangkan eksistensi diri yang tidak berubah sekalipun beban permasalahan menghimpit dan menekan sedemikian rupa. Ketika masuk ke dalam “dapur penderitaan” yang bersangkutan justru mampu memberikan warna dan keharuman bagi lingkungannya. Dia tidak mengeluh dengan permasalahan yang dihadapi. Dari mulutnya tidak keluar ucapan-ucapan yang menggerutu dan apatis.Sekalipun mengalami permasalahan yang sangat berat, dia tetap optimis bahkan mau berbagi pengalaman agar orang lain tidak mengalami hal serupa.

Dari Deskripsi di atas, menjadi kopi adalah yang terbaik, tapi apakah itu yang benar-benar kita butuhkan? Tanyakan kembali pada diri sendiri, sudah seperti apakah kita? Wortel yang melemah karena keadaan, ataukah telur yang mengeras karena terpaan badai kehidupan, Ataukah Kopi yang saat menghadapi masalah dalam kehidupan kita malah memberikan aroma harum untuk lingkungan sekitarnya.
 
sumber:
disadur dari Buku Setengah Isi Setengah Kosong karya Parlindungan Marpaung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar